Untuk menyumbat pembengkakan biaya operasional perajin, Kemenperin bersama YBI menggelar Bimbingan Teknis Peningkatan Efisiensi Produksi IKM Batik di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, pada 19–22 Mei 2026.
Agenda yang menjadi bagian dari rangkaian pemanasan Hari Batik Nasional (HBN) 2026 ini melatih 18 pelaku IKM untuk memeluk teknologi sederhana guna memangkas Harga Pokok Produksi (HPP).
Baca juga: Ekspor Kerajinan RI Tembus USD 806 Juta, Kemenperin Tempa IKM Agar Naik Kelas
Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan Kemenperin, Budi Setiawan, menjelaskan bahwa para perajin diajarkan teknik memurnikan dan memanfaatkan kembali lilin (malam) bekas pakai yang telah luruh dari kain. Selain itu, mereka diperkenalkan dengan inovasi alat cetak alternatif berupa cap berbahan kertas.
“Lilin batik bekas yang diolah kembali dapat mengurangi konsumsi bahan baku dan menecan biaya produksi. Sementara itu, cap batik berbahan kertas lebih ekonomis, mudah dibuat, dan dapat menjadi alternatif yang efektif dibandingkan cap berbahan logam,” ungkap Budi.
Formulasi daur ulang ini diklaim ampuh menekan harga jual ke konsumen tanpa mendiskon mutu ataupun nilai sakral kebudayaannya.
Di sisi lain, praktik ini otomatis mengadopsi prinsip industri hijau yang ramah lingkungan—sebuah nilai jual sensitif yang belakangan ini kerap diburu oleh konsumen global.
Baca juga: Naik Kelas, 12 IKM Binaan Kemenperin Pasok Perlengkapan Haji 2026
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tulungagung, Fajar Widariyanto, menyambut positif suntikan ilmu ini demi mendongkrak daya saing perajin di areanya.



