Meski demikian, laju pertumbuhan mulai melambat sehingga industri otomotif masih menghadapi tantangan dari sisi daya beli masyarakat.
“Meski tetap tumbuh, perlambatan laju registrasi menunjukkan permintaan kendaraan masih menghadapi tekanan,” ungkapnya.
Dari sisi kebijakan, pemerintah telah menyalurkan insentif perpajakan untuk kendaraan energi baru senilai Rp4,2 triliun pada 2025. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp3,9 triliun dialokasikan untuk kendaraan listrik berbasis baterai (BEV).
Baca Juga: ENTREV: Konsumen Mobil Listrik di Indonesia Kian Rasional, Pilih Efisiensi Ketimbang Gaya Hidup
Kombinasi insentif pemerintah, bertambahnya pilihan kendaraan, serta persaingan harga berhasil mendorong pangsa pasar NEV meningkat dari 12,1 persen pada 2024 menjadi 21,9 persen pada 2025. Tren ini memperlihatkan bahwa transformasi industri otomotif Indonesia semakin cepat dan membuka peluang investasi jangka panjang bagi pelaku industri maupun investor yang membidik sektor kendaraan ramah lingkungan.
Namun, Ekonom Bank Danamon menilai percepatan adopsi kendaraan energi baru tetap membutuhkan dukungan berkelanjutan melalui peningkatan keterjangkauan harga, perluasan infrastruktur pengisian daya, serta keberagaman model. Langkah tersebut menjadi kunci agar pertumbuhan pasar NEV tetap solid sekaligus memperkuat ekosistem kendaraan listrik nasional dalam jangka panjang.




