Kerja sama ini juga menjadi senjata utama Pertamina dalam membangun infrastruktur hijau penangkapan dan penyimpanan emisi mematikan atau Carbon Capture and Storage (CCS).
Baca juga:Â Minyak Dunia Melonjak, Pertamina Patra Niaga Naikkan Harga Pertamax Jadi Rp16.250
Teknologi penampung karbon ini bertugas menangkap gas karbondioksida dari cerobong industri untuk kemudian menginjeksikannya kembali ke dalam perut bumi.
Wakil Direktur Utama sekaligus Deputy CEO PT Pertamina (Persero), Oki Muraza, menempatkan penguasaan teknologi mutakhir ini sebagai pilar utama penjaga kedaulatan energi nasional.
Pihaknya terus memburu mitra global yang mampu mempercepat modernisasi infrastruktur energi dari hulu ke hilir.
Pertamina terus memperkuat kemitraan dengan pemain teknologi global untuk mendorong inovasi yang dapat meningkatkan kinerja operasional.
“Selanjutnya mendukung peningkatan produksi minyak dan gas bumi, serta mempercepat pengembangan solusi energi yang lebih efisien dan berkelanjutan,” ujar Oki Muraza.
Baca juga:Â Sapu Bersih Praktik Lancung, Bos Pertamina Drilling Pasang Jerat Anti-Fraud di KPI
Menerjemahkan Nota Kesepahaman Menjadi Proyek Nyata di Lapangan
Melalui penandatanganan kesepakatan ini, manajemen Pertamina dan SLB mempertebal fondasi kemitraan komersial yang telah terjalin selama puluhan tahun di tanah air.
Jajaran direksi kedua organisasi kini tengah menggodok pembentukan satuan tugas gabungan untuk mengawal implementasi kesepakatan di lapangan kerja.
Tim gabungan ini memikul tanggung jawab besar untuk segera menerjemahkan poin-poin nota kesepahaman menjadi program operasional yang konkret di blok-blok migas strategis.




