URBANCITY.CO.ID – Gaya hidup urban modern menuntut ketersediaan produk pangan olahan berkualitas tinggi, mulai dari ragam sajian kafe hingga industri makanan dan minuman skala besar.
Merespons dinamika konsumsi masyarakat perkotaan tersebut, PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) mempercepat standarisasi bahan baku dengan mendorong penerapan prinsip Manis, Bersih, dan Segar (MBS) di seluruh lini pasokan, termasuk di Pabrik Gula (PG) Pradjekan, Bondowoso, Jawa Timur.
Manajemen mengawal ketat komoditas tebu sejak masa panen di kebun hingga tiba di pabrik guna memastikan tingkat kemasakan ideal, menekan residu kotoran, serta mempercepat distribusi tebang-angkut.
Standar MBS Perkuat Rendemen dan Keuntungan Petani
Baca Juga:Â Kementerian UMKM Ekspor 24 Ton Gula Kelapa ke Ghana, Nilai Transaksi Capai Rp1,1 Miliar
Mutu bahan baku memegang peranan krusial dalam menentukan tingkat rendemen giling dan nilai komersial produk akhir.
Petani yang memasok tebu matang sempurna dan bebas kotoran langsung menikmati margin keuntungan yang lebih menjanjikan karena rendemen tebu terhitung lebih optimal.
Langkah ini mengubah skema budidaya tebu menjadi peluang investasi agroindustri yang semakin prospektif dan berkelanjutan bagi para petani mitra di daerah.
Kemitraan erat antara petani dan pabrik juga menjadi kunci ketahanan rantai pasok industri pemanis nasional. Ketua DPC APTRI PG Pradjekan, Rolis Wikarsono, menegaskan komitmen tersebut. “Petani harus terus menjaga kualitas tebunya. Tebu yang Manis, Bersih, dan Segar akan memberikan hasil yang lebih baik ketika masuk ke pabrik. Kami mengajak petani untuk mengirimkan tebu dengan mutu MBS ke PG milik PT SGN agar hasil yang diperoleh lebih maksimal. Dengan hasil yang baik, tentu harapannya pendapatan petani juga dapat meningkat,” ujar Rolis Wikarsono, Ketua DPC APTRI PG Pradjekan.
Baca Juga:Â Naik Kelas, Menkop Ferry Ingin Petani Tebu Ikut Nikmati Saham Industri Gula
Kolaborasi Petani dan Pabrik Gula Pacu Efisiensi Industri
Rolis menilai bahwa petani dan manajemen pabrik memikul tanggung jawab bersama dalam meningkatkan mutu tebu hulu.
Pasokan bahan baku prima tidak hanya memperlancar kerja mesin pengolahan di pabrik, tetapi juga langsung mempertebal nilai pendapatan yang petani terima di lapangan.
Transformasi Sugar Co Jamin Pasokan Gula Konsumen Urban
Baca Juga:Â Gula Aren Banyumas Jadi Bahan Masakan Restoran di Belanda
Sebagai subholding gula PT Perkebunan Nusantara III (Persero), PT SGN yang mengusung merek Sugar Co mengemban mandat strategis sejak 17 Agustus 2021 berdasarkan Surat Menteri BUMN Nomor S-527/MBU/07/2021.
Entitas bisnis ini mengonsolidasikan 42 pabrik gula di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Sulawesi Selatan.
Konsolidasi tersebut mencakup 36 pabrik gula milik Perkebunan Nusantara, dua pabrik gula PT PG Rajawali I, tiga pabrik gula PT PG Rajawali II, serta satu pabrik gula PT Candi Baru.
Perusahaan kini menggeber transformasi bisnis terintegrasi, baik pada sektor hilir pengolahan (off-farm) maupun penguatan kemitraan budidaya (on-farm) bersama petani rakyat.
Baca Juga:Â Ini Penanak Nasi Rendah Gula dan Penggoreng Rendah Lemak
Penerapan prinsip MBS sukses mengerek efisiensi operasional pabrik sekaligus mengamankan kepastian pasokan gula konsumsi berkualitas bagi pemenuhan gaya hidup masyarakat urban.




