Baca Juga: AirNav Indonesia Fasilitasi 4.000 Tiket Mudik Kereta Api Gratis Lebaran 2026
Doppler Very High Frequency Omnidirectional Range (DVOR): Perangkat pemancar gelombang radio VHF terestrial berkurasi tinggi yang independen dari satelit, dengan radius jangkauan radar hingga 200 nautical miles.
Distance Measuring Equipment (DME): Alat pengukur jarak diagonal (slant range) antara moncong pesawat dengan stasiun darat secara real-time.
Instrument Landing System (ILS): Radar pemandu pendaratan presisi di ujung landasan pacu yang membagi sensor panduan horizontal (Localizer) dan sudut luncur vertikal (Glide Slope).
”Kemudian ada juga Instrument Landing System (ILS), yaitu sistem panduan presisi untuk fase pendekatan dan pendaratan yang beroperasi sepenuhnya independen dari GNSS. Fsilitas ILS ini terdiri dari Localizer (panduan arah horizontal) dan Glide Slope (panduan sudut penurunan vertikal),” sambung Avirianto.
Baca Juga: AirNav Indonesia Fasilitasi 4.000 Tiket Mudik Kereta Api Gratis Lebaran 2026
Prosedur Empat Tahap Hadapi GNSS RFI
Mitigasi operasional di ruang kendali udara dieksekusi melalui empat fase taktis. Tahap awal dimulai dari deteksi dini, di mana petugas Air Traffic Controller (ATC) memantau anomali koordinat radar yang disinkronkan dengan laporan visual pilot dari atas kokpit.
Fase kedua adalah koordinasi dan eskalasi. Unit ATC akan melokalisasi informasi ke menara pengawas tetangga dan meneruskan laporan ke Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan.





