Kemudian, pembebasan tarif jasa kepelabuhan sebesar 30 persen selama libur sekolah dan periode Natal-Tahun Baru.
Selain itu, pemerintah mengimplementasikan PPN Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk transportasi udara guna menekan biaya logistik dan meningkatkan mobilitas warga.
Langkah ini secara efektif menciptakan multiplier effect yang mendorong perputaran uang lebih cepat di sektor pariwisata dan jasa.
“Insentif ini diharapkan dapat mendorong mobilitas masyarakat sekaligus menciptakan efek pengganda atau multiplier effect bagi perekonomian,” jelas Qodari.
Baca juga:Â Dampak Stimulus Fiskal 2026: Ekonomi Tumbuh 6 Persen Tapi Risiko Inflasi Membayangi
Pemerintah juga memastikan ketahanan pangan bagi 33,24 juta penerima manfaat melalui bantuan pangan selama kuartal ketiga.
Program ini memberikan rasa aman bagi kelompok masyarakat rentan terhadap fluktuasi harga kebutuhan pokok.
Sementara itu, di sektor ketenagakerjaan, pemerintah membuka peluang bagi 420.000 peserta untuk program magang dan pelatihan vokasi, sebuah langkah investasi SDM yang sangat krusial untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja kita di masa depan.
Proteksi Industri dan Dukungan Ekonomi Kreatif
Pemerintah memperkuat daya saing dunia usaha melalui pemberian insentif bea masuk 0 persen untuk impor LPG dan bahan baku plastik industri.
Kebijakan ini secara langsung menekan biaya operasional manufaktur, yang pada akhirnya mencegah kenaikan harga barang konsumsi di tingkat ritel.
Baca juga:Â Presiden Usul Stimulus Restrukturisasi Kredit Akibat Covid-19 Diperpanjang



