URBANCITY.CO.ID – Sektor industri pengolahan nasional kembali mencatatkan momentum bersejarah. Untuk pertama kalinya dalam 14 tahun, pertumbuhan manufaktur melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 menunjukkan industri pengolahan tumbuh 5,30 persen, sementara ekonomi nasional berada di angka 5,11 persen.
Di tengah tren positif tersebut, industri furnitur mencuat sebagai salah satu pilar strategis hilirisasi berbasis sumber daya alam.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa furnitur bukan sekadar komoditas, melainkan model hilirisasi kayu yang krusial karena sifatnya yang padat karya dan memiliki efek berganda (multiplier effect).
“Industri furnitur merupakan model hilirisasi kayu yang krusial karena bersifat padat karya, mampu menciptakan nilai tambah, serta memberikan efek berganda bagi pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Sektor ini juga menyerap ratusan ribu tenaga kerja dan terhubung langsung dengan pasar global yang nilainya mencapai lebih dari USD 736,21 miliar,” ujar Agus Gumiwang dalam keterangannya, Jumat, 6 Maret 2026.
Menantang Regulasi Global dengan SVLK
Meski posisi manufaktur Indonesia kini berada di peringkat ke-13 dunia, industri furnitur masih menghadapi tantangan berat.
Pada 2025, nilai ekspor tercatat turun 3 persen menjadi USD 1,85 miliar, sementara impor justru naik 6 persen ke angka USD 0,82 miliar.




