URBANCITY.CO.ID – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bergerak cepat memangkas celah kesenjangan (mismatch) antara kompetensi lulusan sekolah kejuruan dengan kebutuhan riil sektor manufaktur nasional.
Langkah ini diwujudkan melalui penguatan kerja sama strategis dengan Pemerintah Swiss lewat peluncuran digitalisasi kurikulum berbasis industri.
Upaya ini krusial mengingat sektor industri pengolahan tetap menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi dengan kontribusi jumbo sebesar 19,07 persen terhadap PDB pada triwulan I 2026, serta mencatatkan pertumbuhan 5,04 persen secara tahunan (y-o-y).
“Pemerintah terus berupaya menjaga momentum pertumbuhan industri manufaktur nasional. Salah satu kuncinya adalah menyiapkan SDM industri yang kompeten, adaptif terhadap perkembangan teknologi, dan mampu bersaing di tingkat global,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Baca Juga: Kemenperin Pacu Industri Hijau Lewat Optimalisasi Sentra IKM Kerajinan Bambu
Digitalisasi Kurikulum Lewat Aplikasi IBC
Guna merealisasikan target tersebut, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin bersama Pemerintah Swiss, Kementerian Pariwisata, serta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah meluncurkan aplikasi Industrial-Based Curriculum (IBC).
Kepala BPSDMI, Doddy Rahadi, menjelaskan bahwa platform digital ini mengintegrasikan seluruh proses perencanaan pendidikan vokasi, mulai dari pemetaan keahlian hingga dokumentasi hasil bagan Analisis Okupasi Kerja (Job Occupational Analysis/JoA).




