“Aplikasi IBC ini memudahkan unit pendidikan vokasi dalam perencanaan dan pengelolaan kegiatan Industrial-Based Curriculum, mulai dari penyiapan data, pemantauan proses, hingga dokumentasi hasil Job Occupational Analysis (JoA) Chart secara terintegrasi,” ujar Doddy.
Melalui sistem digital ini, pelaku industri dapat memberikan masukan, validasi, serta melakukan tinjauan (review) kurikulum secara fleksibel, berkala, dan berkelanjutan.
Baca Juga: Kemenperin Boyong Teknologi DIAB, Pangkas Biaya Pengolahan Limbah Kawasan Industri hingga 20 Persen
Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan Vokasi Industri (PPPVI), Wulan Aprilianti Permatasari, berharap aplikasi ini mampu mendongkrak efisiensi penyusunan materi ajar di sekolah vokasi.
“Melalui sosialisasi ini, kami berharap seluruh peserta dapat memahami dan memanfaatkan aplikasi IBC secara optimal, sehingga proses penyusunan kurikulum berbasis industri dapat berjalan lebih efektif, efisien, dan berdampak nyata,” tutur Wulan.
Rekam Jejak Kemitraan Strategis RI-Swiss
Program sinkronisasi ini merupakan kelanjutan dari proyek Swiss Skills for Competitiveness (SS4C) yang diinisiasi oleh lembaga Swisscontact bersama Pemerintah Indonesia sejak tahun 2018.
Kolaborasi jangka panjang tersebut awalnya mengadopsi metode Developing a Curriculum (DACUM) sebelum akhirnya berevolusi menjadi sistem IBC.
Baca Juga: Kemenperin Perluas Kerja Sama Internasional untuk Perkuat SDM Industri Nasional
Program Manager Swisscontact, Daniel Weibel, menegaskan bahwa kurikulum ini dirancang khusus untuk memastikan para lulusan institusi vokasi memiliki daya serap tinggi di pasar kerja global.





