URBANCITY.CO.ID – Singkong kini bertransformasi menjadi primadona baru di dunia industri modern.
Program hilirisasi yang agresif kini menempatkan komoditas pada posisi strategis dalam peta ekonomi nasional. Padahal dahulu sebagian masyarakat mengganggapnya tradisional.
Pemerintah tidak lagi sekadar menanam, melainkan mengolahnya menjadi produk bernilai tinggi seperti MOCAF, glukosa, hingga kebutuhan pasar global yakni sorbitol.
Langkah ini membuka pintu investasi baru bagi para pelaku usaha urban yang mencari peluang di sektor pangan berkelanjutan.
Mengubah Komoditas Lokal Menjadi Aset Bernilai Ekonomi Tinggi
Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) secara resmi memperkuat ekosistem hilirisasi singkong di Provinsi Lampung pada Kamis (16/7).
Baca Juga:Â Menperin Resmikan Gedung BPIFK, Perkuat Daya Saing Industri Fesyen dan Kriya
Strategi ini memangkas jarak antara sektor hulu dan hilir demi menciptakan nilai tambah yang masif bagi industri pangan lokal.
Wakil Menteri Perindustrian, Faisol Riza, menegaskan pentingnya integrasi ini dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
“Hilirisasi dan penganekaragaman pangan bukanlah dua agenda yang berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling melengkapi dalam mewujudkan industri pangan nasional yang lebih tangguh, berdaya saing, dan berkelanjutan,” ujar Faisol.
Sinergi Kebijakan Membuka Peluang Ekspansi Industri Pangan
Baca Juga:Â Wamenpar Ni Luh Puspa: IPOS X Jadi Momentum Perkuat Daya Saing Industri Event Dunia
Pemerintah memproteksi ekosistem ini melalui regulasi SNI dan kontrol ketat atas impor bahan baku. Kebijakan pro-aktif ini menciptakan kepastian hukum bagi investor yang ingin masuk ke industri pengolahan singkong.




