Bahkan, dinamika pasar global ini telah memicu penyesuaian pada aktivitas ekspor, termasuk munculnya kasus retur barang dari pasar mancanegara.
Baca Juga: Selama 2024 Bea Cukai Lakukan 31.275 Penindakan Perdagangan Ilegal, Paling Banyak Impor Tekstil
Rayon Jadi Penopang Kemandirian
Di tengah gejolak bahan baku berbasis petrokimia seperti poliester, pemerintah mendorong pemanfaatan serat rayon sebagai alternatif.
Produk berbasis sumber daya alam dalam negeri ini dinilai mampu menjadi penyeimbang sekaligus menopang kemandirian industri nasional.
Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kemenperin, Rizky Aditya Wijaya, menjelaskan bahwa sinergi antara serat alam dan sintetis merupakan bagian dari strategi adaptasi industri.
“Di tengah tekanan pada bahan baku berbasis petrokimia seperti polyester, pemanfaatan rayon yang diproduksi di dalam negeri memberikan alternatif bahan baku yang kompetitif sekaligus memperkuat kemandirian industri,” tuturnya.
Monitoring Real-Time dan Insentif Fiskal
Baca Juga: PDC Luncurkan Gerakan Tangan Kedua, Olah Limbah Tekstil Pekerja Jadi Produk Ekonomi Sirkular
Sebagai langkah konkret, Kemenperin kini tengah mengembangkan sistem monitoring terpadu untuk melakukan analisis data secara real-time. Pemerintah juga sedang mengkaji pemberian insentif fiskal untuk bahan baku strategis serta dukungan efisiensi energi.
Rizky menambahkan, pemerintah memberikan perhatian khusus pada industri yang memiliki ketergantungan tinggi pada bahan baku spesifik tanpa substitusi, seperti industri popok (diapers). Pemetaan komoditas kritikal dilakukan guna mengantisipasi risiko produksi dalam jangka pendek.






