“Secara struktural ini tentu akan memiliki implikasi jangka pendek berupa penurunan dan reaksi penyesuaian harga-harga saham yang terdampak. Sehingga istilah short-term pain, bahwa kita harus menghadapi tingkat penurunan di jangka pendek ini menjadi konsekuensi yang sudah kita perhitungkan,” jelas Hasan Fawzi.
Baca Juga: OJK Gandeng Australia Perangi Scam Keuangan, 530 Ribu Kasus Jadi Ancaman Sistemik
Fundamental Sektor Keuangan Tetap Resilien
Meskipun terjadi volatilitas jangka pendek, OJK optimistis pasar modal Indonesia tetap kompetitif. Hal ini didukung oleh Price-to-Earnings Ratio (PER) IHSG yang berada di level 16 kali serta pertumbuhan positif laba emiten pada triwulan I-2026.
Untuk menjaga stabilitas, OJK terus berkoordinasi dengan Self-Regulatory Organizations (SRO) dan memperpanjang kebijakan strategis, termasuk izin pembelian kembali (buyback) saham tanpa melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). (*)






