Karakter mendesak inilah yang dianggap menjawab teka-teki mengapa dalam tempo 18 bulan saja, wajah kebijakan publik Indonesia berubah drastis. “Itu menjawab kenapa baru 18 bulan dan sudah begitu banyak solusi yang bisa dilakukan,” ucapnya menambahkan.
Menepis Riuh Media Sosial Lewat Data Statistik
Yuza tidak menampik bahwa derasnya arus informasi di platform digital justru kerap membuat esensi program pemerintah bias atau terdistorsi.
Format buku fisik sengaja dipilih sebagai antitesis terhadap narasi media sosial yang durasinya semakin pendek dan dangkal, yang dituding membuat publik kehilangan arah dalam melacak kerja-kerja nyata pemerintah.
“Saking banyaknya inovasi kebijakan publik yang dilakukan oleh Bapak Presiden, dan kapasitas media sosial yang semakin hari semakin sempit dari sisi apa yang bisa disampaikan, publik ini sepertinya lost track. Bahkan mungkin pejabat-pejabat di lingkungan kabinet pun lost track Bapak Presiden sudah melakukan apa saja,” kata Yuza blak-blakan.
Baca juga: Penghormatan Terakhir Presiden Prabowo untuk Almarhum Jenderal Ryamizard Ryacudu
Untuk itu, tim penulis sengaja menyajikan buku ini dengan gaya bahasa populis tanpa bumbu teori akademis kebijakan publik yang menjemukan. Format tulisan langsung menodong inti masalah (before-after) dilengkapi dengan sajian data statistik yang valid agar mudah dikunyah oleh masyarakat awam.
“Jadi kami mencoba menyampaikan ini semudah mungkin di dalam buku ini, ini bukan buku kebijakan publik. Tidak ada teori-teori di sini. Langsung apa yang dipermasalahkan dan apa yang disolusikan oleh Presiden satu per satu, before-afternya, dan juga data-data statistiknya,” tutur Yuza memungkasi penjelasannya. (*)




