Di tengah kondisi tersebut, BTN tetap menjaga kualitas pembiayaan. Hirwandi mengatakan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) KPR subsidi per Juni 2026 berada di kisaran 1 persen, sedangkan NPL kredit konsumer secara keseluruhan sekitar 2,7 persen.
“Kualitas KPR subsidi per Juni sekitar 1 persen. Kemudian, kredit konsumer secara keseluruhan juga bagus, di 2,7 persen,” katanya.
Kinerja tersebut memperkuat optimisme BTN untuk menumbuhkan bisnis perbankan konsumer sekitar 8–10 persen sepanjang 2026. Perseroan juga terus menjaga likuiditas melalui pengelolaan aset dan liabilitas serta memperkuat kolaborasi dengan pengembang. Langkah ini diharapkan mampu menjaga momentum pembiayaan perumahan sekaligus membuka peluang lebih besar bagi masyarakat urban untuk memiliki rumah sebagai tempat tinggal maupun aset investasi jangka panjang.



