Namun, di balik angka tersebut, ada kontraksi pada laba bersih akibat keputusan manajemen melakukan percepatan depresiasi aset sebagai konsekuensi dari total governance reset.
Manajemen buru-buru menepis kekhawatiran pasar, mengingat efek penyusutan nilai tersebut murni bersifat non-tunai (non-cash).
Di atas kertas, fundamental operasional bisnis inti diklaim tetap rigid dan arus kas perusahaan justru semakin menebal.
Baca juga:Â Belum Beroperasi, Data Center Telkom di Batam Sudah Ludes Dipesan Raksasa AI
Bergeser ke pilar kedua, yakni Streamlining, Telkom melakukan operasi pasar internal dengan mendepak aset-aset non-inti (non-core) untuk kembali fokus ke habitat aslinya: telekomunikasi dan konektivitas digital.
Tak tanggung-tanggung, sebanyak enam entitas bisnis di bawah payung TelkomGroup telah dirampingkan. Salah satu langkah konkretnya adalah rampungnya transaksi divestasi terhadap AdMedika Group pada 2 Juni 2026 kemarin.
Membuka Nilai Tambah Lewat Spin-Off Infrastruktur
Sedangkan pada aspek pilar ketiga, Unlocking Value, Telkom mulai memeras potensi cuan dari lini infrastruktur pasifnya.
Perseroan tengah menyiapkan pemisahan usaha (spin-off) aset dan bisnis konektivitas kabel serat optik grosir (wholesale fiber connectivity) ke dalam entitas baru bernama InfraNexia, dengan target ketok palu pada kuartal ketiga tahun ini.
Di saat yang sama, keran kemitraan strategis untuk bisnis pusat data (data center) kembali dibuka lebar bagi investor global.
Baca juga:Â Siasat Telkom Kuasai Pasar Digital Lewat Peluncuran Platform Raksasa AIcosystem



