Baca juga: KB Bank Syariah Sukses Pertahankan Peringkat AAA, Dengan Outlook Stabil Dari Fitch Ratings
“Jika fiskal terlalu dominan, itu akan memberikan potensi krisis dan mengurangi prudentiality,” ujarnya.
Di sisi lain, menurut Telisa, pergerakan kebijakan fiskal juga menghadapi tantangan transmisi ke daerah.
Pemangkasan Dana Transfer ke Daerah (TKD) untuk pengalihan ke program prioritas nasional dinilai memerlukan koordinasi dan sinkronisasi yang mulus (smooth) antara pemerintah pusat dan daerah.
“Ya agar pelayanan publik dasar tidak terganggu,” kata Telisa.
Kredit Belum Menyentuh Sektor Riil
Meskipun pertumbuhan kredit secara makro menunjukkan pemulihan, pengamat menilai penyalurannya masih terkonsentrasi pada sektor korporasi besar dari sisi transmisi ke sektor riil.
Misalnya, industri sawit, nikel, CPO, dan kredit investasi proyek. Smentara pertumbuhan kredit UMKM dan kredit modal kerja masih belum signifikan.
Baca juga: Outlook Ekonomi Syariah 2025: Soroti Pentingnya Inovasi dan Digitalisasi Perbankan Syariah
Kondisi ini sejalan dengan penurunan daya beli masyarakat kelas menengah yang tercermin dari pergeseran perilaku keuangan.
“Mulai dari fenomena maraknya penarikan tabungan (makan tabungan) hingga penggunaan fasilitas pinjaman untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari (makan pinjaman) atau manja,” tegas Telisa.
Piter Abdullah selaku Ekonom Senior Prasasti Center for Policy Studies menekankan pentingnya langkah mitigasi risiko (hedging) bagi korporasi.
Bahkan, lembaga keuangan di tengah volatilitas nilai tukar yang dipicu oleh eskalasi geopolitik global.




