Menambal Kebocoran Devisa Susu Rp25 Triliun
Peluang emas bagi koperasi untuk menguasai sektor produksi sejatinya terbentang lebar di bidang peternakan.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, mengungkapkan adanya ketimpangan masif antara produksi susu segar dalam negeri dengan kebutuhan industri maupun masyarakat.
Saat ini, produksi susu lokal mandek di angka 1 juta ton, atau hanya sanggup menutup 20 persen dari total kebutuhan nasional.
Akibatnya, Indonesia terpaksa melakukan impor susu bubuk massal dari luar negeri dengan nilai kerugian devisa mencapai Rp25 triliun setiap tahunnya.
Ketergantungan ini terjadi lantaran populasi sapi perah nasional hanya berkisar 540 ribu ekor, di mana mayoritas atau 85 persen masih dipelihara secara konvensional oleh peternak rakyat.
Baca juga: Menteri Ekraf Teuku Riefky: Industri Motorsport Adalah Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi Kreatif
Agung menrinci, saat ini produksi susu nasional hanya sekitar 1 juta ton atau hanya 20 persen dari kebutuhan nasional sehingga sisanya harus impor dalam bentuk susu bubuk dengan nilai setiap tahun sekitar Rp25 triliun. Ini menjadi tantangan nasional.
“Hal ini terjadi karena total populasi sapi perah hanya sekitar 540 ribu ekor dimana 85 persen dipelihara peternak rakyat, 10 persen peternakan komersial dan hanya 5 persen peternakan korporasi/mega farm,” imbuh Agung.
Hadirnya megaproyek program Makan Bergizi Gratis (MBG) diproyeksikan bakal membuat permintaan susu agregat melonjak drastis. Situasi pelik ini harus ditangkap sebagai peluang bisnis oleh koperasi peternakan.




