Arah pengembangan tebu modern ini memang diwajibkan mengandalkan skema kemitraan. Di Pekalongan, para petani dikawinkan langsung dengan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) dan manajemen Pabrik Gula (PG) Sragi.
Pola hubungan bapak-anak angkat ini sengaja dikunci untuk memberikan jaminan harga dan kepastian penyerapan hasil panen saat musim giling tiba.
Bagi Kementan, penguatan industri pengolahan alias hilirisasi adalah benteng utama agar petani tak melulu menjadi korban permainan harga tengkulak. Jika ekosistem bisnisnya sehat dan menguntungkan, gairah menanam dengan sendirinya akan tumbuh.
Baca juga:Â Dorong Wisata Halal, Menpar Widiyanti Serahkan Sertifikat Halal di Kulon Progo
Amran Sulaiman pun berjanji, pemerintah tidak akan melepas petani bertarung sendirian di pasar bebas. Fasilitas berupa benih unggul, alat mekanisasi pertanian, hingga kemudahan akses pembiayaan akan digelontorkan sebagai insentif.
“Petani harus menjadi pelaku utama yang menikmati manfaat pembangunan pertanian. Karena itu, seluruh program yang dijalankan diarahkan untuk meningkatkan produktivitas, kesejahteraan petani, dan memperkuat ketahanan pangan nasional,” pungkas Amran. (*)

