URBANCITY.CO.ID – Gaya hidup urban yang serba cepat menuntut pengelolaan anggaran rumah tangga yang makin presisi di tengah lonjakan harga kebutuhan dapur.
Fluktuasi harga komoditas pangan segar kini menguji kebiasaan belanja harian kaum urban Jakarta akibat kendala logistik antardaerah.
Kenaikan harga cabai merah keriting dari kisaran Rp 45–50 ribu menjadi Rp 55 ribu per kilogram (kg) merefleksikan dampak nyata gangguan rantai pasok pascaerupsi Gunung Anak Krakatau.
Seorang pedagang sayuran di Pasar Kebayoran Lama, Sri (43), mengamati pembatasan jalur pengiriman sejak tiga hari terakhir yang memicu kenaikan harga komoditas utama tersebut secara signifikan.
Baca Juga: Harga Beras Medium dan Premium Semakin Mahal
“Karena erupsi kemarin kan pengiriman dibatalkan semua. Mungkin karena itu. Tiga hari ini pengiriman dibatasi semua,” tutur Sri saat ditemui Liputan6.com, Jumat (11/9/2026).
Siasat Alokasi Anggaran: Bawang Impor dan Cabai Rawit
Pergerakan harga bawang putih menuntut konsumen perkotaan lebih cermat menghitung biaya belanja bumbu dapur harian.
Pasar kini mematok bawang putih impor seharga Rp 40 ribu per kg, melampaui harga bawang merah lokal yang berada di angka Rp 35 ribu per kg akibat dinamika kurs valuta asing.
Baca Juga: Indonesia Swasembada Beras, tapi Harga Beras Mahal
“Iya, karena impor. Bawang putih dari China, bukan lokal. Tergantung harga dolar (AS) impor,” kata dia.
Sementara itu, harga cabai rawit merah bertahan di level tinggi Rp 80 ribu per kg, disusul lonjakan cabai rawit hijau ke angka Rp 65 ribu per kg dari sebelumnya Rp 50 ribu per kg.
Adapun cabai merah besar stabil di level Rp 50 ribu per kg, membuka peluang bagi warga urban untuk menyubstitusi resep masakan demi mengoptimalkan pengeluaran kuliner.
Daftar Harga Cabai dan Bawang (Pasar Kebayoran Lama):




