URBANCITY.CO.ID – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax kini menghantam sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah.
Fenomena ini memaksa masyarakat urban dan pelaku usaha lokal merogoh kocek lebih dalam untuk membeli BBM di tingkat pengecer.
Kondisi tersebut memicu pergeseran tren konsumsi, di mana kios eceran kini membanjiri etalase mereka dengan Pertamax hingga Pertamax Turbo seiring lenyapnya pasokan Pertalite.
Nilai Waktu dan Produktivitas Komuter Urban
Baca Juga: Bahlil Buka Suara Soal Sinyal Kenaikan Harga Pertamax: Ikuti Harga Minyak Dunia
Bagi masyarakat perkotaan yang bertumpu pada mobilitas cepat, waktu mencerminkan aset paling berharga.
Menghabiskan waktu berjam-jam dalam deretan antrean SPBU memicu kerugian ekonomi nyata (opportunity cost) yang jauh melampaui selisih harga resmi BBM.
Demi menjaga ritme produktivitas harian, sebagian warga secara sadar memilih membayar premi ekstra di kios jalanan sebagai langkah investasi waktu.
Warga Pangkalan Bun, Roniamsyah mengaku memilih membeli Pertamax eceran karena tak ingin kembali membuang waktu dengan mengantre di SPBU.
Baca Juga:Â Minyak Dunia Melonjak, Pertamina Patra Niaga Naikkan Harga Pertamax Jadi Rp16.250
“Saya sudah trauma antre di SPBU. Sudah antre untuk Pertamax, eh sudah habis. Sekarang saya mending beli di pengecer,” kata Roni, Jumat (4/9/2026).
Roni rela menebus sebotol Pertamax eceran seharga Rp 20 ribu demi mempertahankan efisiensi kerjanya sebagai kurir pengantar barang.
“Kalau di pengecer satu botol Rp 20 ribu. Kalau Pertalite di eceran sudah tidak terlihat lagi. Sekarang pengecer jual Pertamax dan Turbo,” ujarnya.
“Kalau saya ikut antre, saya nggak bisa jualan dan mengantar pesanan pelanggan. Kerjaan saya ngurir,” tuturnya.
Baca Juga:Â Harga Pertamax Naik, Menkeu Pastikan Inflasi Tetap Terkendali
Dampak Logistik terhadap Perputaran Ekonomi Daerah
Ketergantungan rantai pasok lokal terhadap mobilitas kendaraan bermotor menuntut stabilitas suplai energi tanpa jeda.
Ketika pasokan bahan bakar terganggu, ongkos logistik langsung membengkak dan menekan margin pendapatan para pekerja sektor informal serta pelaku UMKM.
Situasi ini membuktikan bahwa kepastian akses energi berkualitas tinggi menjadi prasyarat mutlak untuk menopang perputaran roda ekonomi daerah yang kompetitif.
Baca Juga:Â Menkeu Purbaya Prediksi Harga Pertamax Turun Berkat Redanya Konflik AS-Iran
Parlemen daerah mencermati langsung hambatan distribusi energi ini guna melindungi daya beli serta kelancaran aktivitas usaha masyarakat.
Wakil Ketua I DPRD Kobar, Rudi Imam Gunawan, mengatakan pihaknya masih meminta penjelasan kepada Pertamina terkait kondisi pasokan, terutama untuk Pertamax.
“Kita masih mempertanyakan Pertamina, kapan stok Pertamax ditambah. Kita masih terus pertanyakan ini,” kata Rudi.
Desakan Pemulihan Distribusi demi Gaya Hidup Mandiri
Baca Juga:Â Pertamina Turunkan Harga Pertamax
DPRD Kobar terus mendesak Pertamina agar segera menormalkan rantai distribusi dan menambah alokasi pasokan ke seluruh SPBU.
Kepastian stok bahan bakar berkualitas akan mengembalikan kenyamanan berkendara, memangkas antrean panjang yang tidak produktif, serta menghilangkan distorsi harga di tingkat ritel mandiri.
Pasokan BBM yang terukur pada akhirnya menjamin kelangsungan gaya hidup masyarakat urban yang mengutamakan kecepatan, efisiensi modal, dan mobilitas tanpa batas.




