“India sendiri berhasil pulih dan menjadi primadona pasar berkembang dengan menyelaraskan batas kepemilikan asing serta memperkuat basis investor domestik melalui digitalisasi investasi yang massif. Langkah tersebut membuktikan bahwa periode penyesuaian indeks adalah momentum ‘pembersihan’ untuk menciptakan pasar yang lebih kredibel,” ungkap Hans.
Menurut Hans, bagi investor Indonesia, inilah saat yang tepat untuk melakukan evaluasi portofolio secara objektif. Pasalnya, pasar yang mampu berbenah pasca-koreksi teknikal sering kali menghasilkan pertumbuhan yang jauh lebih tangguh dalam jangka panjang.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Yakin Ekonomi 2026 Dorong IHSG ke 10.000
“Pengumuan MSCI bisa jadi bottom dari koreksi IHSG sebelum kembali bangkit mengikuti fundamental perusahaan,” kata Hans.
Pertanyaannya, bisa tidak Indonesia “berguru” pada Negeri Pridavan itu? Buka napa-apa, pelemahan IHSG yang terjadi saat ini bukan semata karena faktor MSCI. Masih banyak faktor lain yang membelit gerak indeks saham kita.
Okelah, kita tak hanya bahas faktor eksternal, juga faktor internal mesti kita evaluasi. Dari dalam negeri, data survei penjualan eceran pada Maret kemarin telah dirilis oleh Bank Indonesia.
Bank sentral mencatat penjualan ritel sepanjang Maret kemarin hanya tumbuh 3,4% (YoY). Angka itu jauh di bawah capaian bulan Februari yang sebesar 6,5%.
Secara bulanan (MtM), penjualan ritel pada April diperkirakan turun mencapai 10,0%. Penurunan itu akibat normalisasi permintaan masyarakat pasca-periode Ramadan dan Idul Fitri.




