Baca Juga: IHSG Diprediksi Melemah di Awal Pekan, Ini Menu Saham yang Perlu Diperhatikan
“Data penjualan ritel kita ternyata tidak setinggi sebelumnya,” kata Telisa Falianty, Ekonom UI, kepada UrbanCity, Rabu (13/5/2026).
Telisa menambahkan, kendati pertumbuhan ekonomi di kuartal I terbilang tinggi, mencapai 5,61%, namun indikator-indikator lainnya tak sesuai harapan.
Misalnya, indeks keyakinan konsumen yang hanya tumbuh tipis di April 2026 dari 122,9 menjadi 123,0 serta naiknya ekspektasi inflasi akibat kenaikan harga minyak dan imported inflation dari pelemahan rupiah.
“Jadi multidimensi penyebab penurunan IHSG. Makanya untuk menyelamatkan IHSG dan rupiah harus secara holistik. Kalau tidak bisa menimbulkan potensi risiko sistemik di sektor keuangan yang perlu segera kita antisipasi dengan reformasi serius di sektor keuangan dan sektor real,” jelas Telisa.
Tak sampai di situ, angka pertumbuhan ekonomi di kuartal I-2026 yang menembus 5,61% diragukan oleh beberapa kalangan.
Baca Juga: Presiden Prabowo Jaga Stabilitas Keuangan, OJK Perkuat Transparansi Pasar Modal RI
Salah satunya adalah Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI).
Dalam laporan yang keluar pada 11 Mei kemarin, LPEM FEB UI menilai bahwa angka pertumbuhan itu kemungkinan terlalu tinggi dan tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi riil.
Pasalnya, ada beberapa data BPS yang dipandang tak konsisten. Misalnya, data mengenai sektor industri pengolahan yang tercatat tumbuh 5,04% yoy pada kuartal I. Anehnya, sektor listrik, gas, dan air justru mengalami kontraksi sebesar 0,99% yoy pada periode yang sama.




