“Angka ini menunjukkan investor semakin serius menanamkan modal pada proyek pengolahan bahan mentah menjadi produk jadi atau setengah jadi,” kata Christiantoko.
Sektor mineral tetap menjadi primadona dengan total nilai Rp98,3 triliun. Nikel memimpin klasemen dengan investasi Rp41,5 triliun, disusul tembaga sebesar Rp20,7 triliun, besi baja Rp17 triliun, dan bauksit Rp13,7 triliun.
Menurutnya, langkah ini penting untuk membangun ekosistem industri yang berdaya saing global ketimbang sekadar menjual komoditas murah.
Pemerataan Luar Jawa dan Penyerapan Buruh
Dari sisi kewilayahan, distribusi investasi menunjukkan tren pemerataan yang menggembirakan. Wilayah luar Jawa mencatatkan realisasi Rp251,3 triliun atau 50,4 persen, melampaui raihan di Pulau Jawa.
Baca Juga: Pulang dari Jepang dan Korea, Presiden Prabowo Kantongi Komitmen Investasi Rp575 Triliun
Singapura tetap kokoh sebagai investor terbesar dengan nilai USD 4,6 miliar, diikuti Hong Kong, Tiongkok, Amerika Serikat, dan Jepang.
Dampak nyata dari derasnya arus modal ini terlihat pada penyerapan tenaga kerja. Sepanjang kuartal pertama 2026, tercatat sebanyak 706.569 tenaga kerja berhasil terserap ke dalam berbagai proyek investasi.
“Buktinya ada 706.569 tenaga kerja yang terserap pada kuartal ini. Jadi hilirisasi terbukti menjadi mesin penggerak kesejahteraan yang jauh lebih efektif dibandingkan sekadar pengerukan SDA tanpa pengolahan,” pungkas Christiantoko.
Capaian ini diharapkan menjadi fondasi bagi Indonesia untuk bertransformasi dari negara pengekspor bahan mentah menjadi negara industri yang tangguh dan mandiri secara ekonomi. (*)






