Kredit Produktif Masih Jadi Gurita Portofolio
Penelusuran Tempo menunjukkan bahwa wajah industri penjaminan tanah air belum banyak berubah dari sisi diversifikasi produk.
Rapor per Maret 2026 mengonfirmasi produk penjaminan kredit dan pembiayaan masih kokoh menjadi tulang punggung tunggal perolehan premi industri.
Baca Juga:Â Bukan Hanya Indonesia, OJK Sebut Rebalancing MSCI Dialami Seluruh Pasar Asia-Pasifik
Berdasarkan data OJK, total nilai outstanding penjaminan produktif bertengger di angka Rp272,07 triliun. Realisasi ini menguasai porsi mayoritas, yakni 70,32 persen dari total kumulatif outstanding industri penjaminan nasional sebesar Rp386,87 triliun.
Ogi memprediksi dominasi ini masih akan panjang. Dorongan masif kebijakan pemerintah dalam mendongkrak ekonomi makro menjadi alasan utama mengapa pembiayaan sektor produktif belum akan tergeser dalam waktu dekat.
“Namun demikian, industri juga diharapkan dapat terus melakukan diversifikasi produk penjaminan agar struktur bisnis menjadi lebih seimbang dan berkelanjutan,” tambahatnya.
Menjinakkan Bom Waktu Klaim Akibat NPL Properti
Tantangan krusial justru datang dari sektor properti. Bank Indonesia (BI) sebelumnya merilis alarm peringatan mengenai kenaikan rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) properti perbankan yang merangkak naik ke level 3,24 persen pada Februari 2026, dari tahun sebelumnya yang hanya 2,99 persen.
Baca Juga:Â Cegah Kriminalisasi Bankir, OJK Sosialisasikan Aturan Business Judgement Rule Terkait Kredit
Kenaikan NPL ini menjadi bom waktu yang siap memberikan tekanan berat pada rasio klaim asuransi kredit. Turunnya kemampuan bayar debitur otomatis memicu lonjakan frekuensi klaim.





