Fokus pada Raksasa Semen
Sektor industri semen menjadi sorotan utama dalam agenda ini. Sebagai produsen semen terbesar di Asia Tenggara dengan kapasitas 121,66 juta ton per tahun, industri ini memegang peran krusial dalam menekan jejak karbon nasional.
Baca Juga: Prioritas Presiden Prabowo, Kemenperin Buka Pendaftaran Vokasi JARVIS 2026
Sejauh ini, hasilnya mulai terlihat. Kemenperin mencatat penurunan clinker factor menjadi 68,1 persen dari basis awal 81 persen pada 2010.
Selain itu, emisi spesifik industri semen berhasil ditekan menjadi 566,3 kg per ton semen ekuivalen, jauh lebih rendah dari kondisi awal sebesar 724 kg.
Menperin Agus Gumiwang optimistis sinergi antara regulasi dan pelaku usaha akan memperkuat posisi industri semen.
“Kami optimistis industri nasional, khususnya sektor semen, mampu terus meningkatkan efisiensi sekaligus memperkuat daya saingnya di pasar global melalui penerapan prinsip industri hijau,” tegasnya.
Penguatan Regulasi dan TKDN
Pemerintah juga memperkuat ekosistem ini melalui instrumen hukum, termasuk pemberlakuan wajib SNI semen lewat Permenperin Nomor 26 Tahun 2024. Selain itu, kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di sektor ini telah mencapai angka tinggi di kisaran 74,66 persen hingga 98,32 persen.
Baca Juga: Naik Kelas, 12 IKM Binaan Kemenperin Pasok Perlengkapan Haji 2026
Melalui forum INTERCEM Asia 2026 yang dihadiri lebih dari 300 pelaku industri dunia, Indonesia mempertegas posisinya sebagai mitra strategis global.
Indonesia tidak hanya ingin menjadi pasar, tetapi juga pemain kunci dalam inovasi industri rendah karbon yang berkelanjutan. (*)






