Memonetisasi Budaya Material Menjadi Magnet Bisnis Kreatif
Baca Juga:Â Indonesia dan Korsel Jajaki Kerja Sama Budaya, Dorong Investasi Kreatif Global
Generasi digital native di kawasan metropolitan menunjukkan antusiasme tinggi terhadap aktivitas fisik yang menyentuh ranah budaya material (material culture).
Tren berkirim surat manual lewat prangko membuktikan tingginya kerinduan generasi muda perkotaan terhadap interaksi personal yang berkarakter di tengah derasnya pesan instan digital.
Bukti nyata terlihat dari kompetisi menulis surat tahun lalu garapan Perkumpulan Filatelis Indonesia (PFI) yang menyedot 34.000 peserta pelajar dan mahasiswa, dengan 7.500 surat menyasar figur pahlawan nasional R.A. Kartini.
“Anak-anak sekarang yang merupakan generasi digital native justru haus dengan material culture. Inilah saatnya untuk berkampanye. Museum harus dijadikan atraksi, karena di banyak negara museum adalah sumber ekonomi. Inilah yang kita sebut ekonomi budaya dan ekonomi kreatif, dan aset PT Pos memiliki potensi yang sangat besar untuk itu,” ungkap Menbud Fadli Zon.
Baca Juga:Â Dekolonisasi Pengetahuan Sejarah Menbud Fadli Zon Perkuat Investasi Edukasi Budaya
Kementerian Kebudayaan juga membidik optimalisasi deretan gedung bersejarah milik PT Pos di berbagai simpul perkotaan Indonesia.
Salah satu target utama mencakup pembenahan Museum Pos di Kota Bandung agar naik kelas dari lantai bawah tanah (basement) menjadi konsep museum hidup (living museum) yang memikat para pelancong urban.
Konversi aset bernilai sejarah ini membuka peluang bisnis hospitality, ruang komunal kreatif, hingga gerai retail tematik yang mendatangkan keuntungan finansial berkelanjutan.




