Festival ini memadukan berbagai elemen ekspresi kreatif ke dalam satu panggung, mulai dari seniman tato, komunitas otomotif, brand motor legendaris internasional, hingga fotografer dan penulis cerita (storyteller).
“Ajang ini menarik karena body art tidak hanya hadir sebagai karya personal, tetapi juga menggunakan otomotif sebagai medium seni. Ada kolaborasi dengan komunitas dan brand motor internasional seperti Harley-Davidson, ada fotografer yang mendokumentasikan karya, dan harapannya juga hadir storyteller yang mampu mengangkat makna di balik setiap desain yang ditampilkan,” ujar Irene Umar.
Melestarikan Budaya Nusantara Melalui Storytelling
Lebih lanjut, Irene memaparkan bahwa seni merajah tubuh memiliki akar historis yang sangat kuat di Indonesia. Pola visual tradisi telah lama digunakan oleh masyarakat adat di Nusantara sebagai simbol identitas komunal.
Baca Juga: Kemenekraf Dorong Industri Periklanan Indonesia Tembus Rantai Produksi Global di ADFEST 2026
Pemerintah menilai potensi kultural ini dapat ditransformasikan menjadi aset bernilai ekonomi tinggi jika dikemas dengan narasi yang kuat.
“Nenek moyang kita sudah lama menggunakan body art untuk mengekspresikan identitas dan cerita komunitas mereka melalui pola-pola yang memiliki makna mendalam, seperti budaya Tato Mentawai. Storytelling seperti ini bisa dikembangkan menjadi film, buku, maupun karya kreatif lainnya agar Indonesia semakin dikenal sebagai pusat brand dan kreativitas,” ujar Irene.
Filosofi Tinta Menghubungkan Ekosistem Kreatif




