Baca Juga: Tensi Timur Tengah Picu Harga Plastik, Kemenperin Pacu Inovasi Kemasan Alternatif
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S. Lukman, menyambut baik langkah ini sebagai upaya perluasan sumber bahan baku (sourcing).
Menurutnya, inovasi di divisi manufaktur sangat krusial agar industri lokal tetap kompetitif di pasar global.
“Dalam mengantisipasi berbagai tantangan industri, terdapat dua aspek penting, yaitu procurement dan divisi manufacturing. Divisi manufacturing perlu meningkatkan efisiensi agar tetap kompetitif, sementara procurement perlu memperluas sourcing,” tutur Adhi.
Mengurangi Ketergantungan Impor
Kebutuhan nasional akan kemasan aseptik diperkirakan mencapai 8,3 miliar kemasan per tahun. Segmen susu dan produk dairy mendominasi dengan kebutuhan 4,8 miliar, disusul oleh minuman teh, kopi, dan produk nabati seperti santan atau oat milk.
Baca Juga: Garap Mobil Listrik Nasional, Kemenperin Pacu Ekosistem Kendaraan Listrik RI
Kehadiran PT Lami Packaging Indonesia (LamiPak) sebagai produsen kemasan aseptik pertama di tanah air menjadi angin segar.
Dengan kapasitas produksi mencapai 21 miliar kemasan per tahun—hampir tiga kali lipat kebutuhan nasional—LamiPak diharapkan mampu menjamin stabilitas pasokan domestik sekaligus memangkas angka impor.
Kemenperin menegaskan akan terus mendukung transformasi ini melalui pemberian insentif modernisasi teknologi.
Pemanfaatan kemasan aseptik berbasis kertas menjadi langkah nyata menuju industri yang lebih inovatif, efisien, dan ramah lingkungan. (*)






