Indikator kualitas aset pun menunjukkan perbaikan signifikan. Selain penurunan NPL, indikator Loan at Risk (LAR) turun ke angka 18,6 persen.
Kemudian, perseroan sukses menekan Cost of Credit (CoC) menjadi 0,7 persen dari posisi 2,0 persen di tahun sebelumnya.
“Transformasi yang kami jalankan bukan hanya bertujuan memperbesar bisnis, tetapi membangun fondasi pertumbuhan yang sehat, efisien, dan berkelanjutan,” ujar Nixon.
Dengan kualitas aset yang semakin baik, struktur pendanaan yang semakin kuat, serta ekosistem digital yang terus berkembang, BTN optimistis mampu menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan.
Baca juga:Â Sokong Maung MV3, Bank BTN Kucurkan Kredit Rp1,5 Triliun ke PT Pindad
Akuisisi Portofolio SMBC Indonesia
Sebagai wujud nyata strategi beyond mortgage dan upaya memperkuat pertumbuhan anorganik, Bank BTN telah merampungkan akuisisi tahap pertama portofolio kredit pensiun PT Bank SMBC Indonesia Tbk senilai Rp12,6 triliun.
Langkah strategis ini mempertebal komposisi kredit non-perumahan perusahaan sekaligus menjadi sumber pertumbuhan baru dengan profitabilitas tinggi.
Mengingat, akuisisi seluruh portofolio berstatus kualitas lancar (performing loan).
“Strategi beyond mortgage tidak berarti meninggalkan bisnis inti pembiayaan perumahan, tetapi melengkapinya sehingga nasabah BTN bisa mengakses kredit dari masa produktif hingga masa pensiun. Langkah ini juga akan meningkatkan daya tahan bisnis BTN dalam jangka panjang,” ujar Nixon.
Bank BTN menjadwalkan kelanjutan akuisisi tahap kedua senilai Rp7,34 triliun pada kuartal III-2026.




