Baca Juga: Kemenperin Pacu Industri Hijau Lewat Optimalisasi Sentra IKM Kerajinan Bambu
Langkah penguatan ini diproyeksikan mampu membawa produk rendang lokal merambah pasar yang lebih spesifik, seperti pemenuhan kebutuhan logistik jemaah haji dan umrah di Arab Saudi, hingga pasar ekspor reguler.
Direktur Jenderal IKMA, Reni Yanita, menambahkan bahwa pihaknya juga memfasilitasi adopsi teknologi Industri 4.0 di lini produksi.
Sinergi dengan LPEI diprioritaskan pada kurasi sampel produk untuk dipromosikan langsung kepada buyer potensial dan aggregator internasional.
“Dukungan ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi produksi, konsistensi mutu, higienitas produk, kapasitas produksi, serta kesiapan IKM rendang dalam memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun standar pasar ekspor global,” kata Reni.
Sumatera Barat Kantongi Potensi IKM OVOP Melimpah
Berdasarkan Keputusan Menteri Perindustrian Nomor 3174 Tahun 2024, Indonesia saat ini memiliki 113 IKM OVOP.
Baca Juga: Hilirisasi Buah Tropis, Kemenperin Dorong IKM Olah Komoditas Unggulan Jadi Produk Ekspor
Sekretaris Ditjen IKMA, Yedi Sabaryadi, menyebutkan bahwa Provinsi Sumatera Barat menyumbang 22 IKM OVOP, menjadikannya wilayah dengan populasi IKM bersertifikat OVOP terbanyak kedua di Indonesia setelah DI Yogyakarta.
Program pendampingan yang dimulai sejak 12 Mei 2026 di Payakumbuh ini melibatkan sejumlah produsen lokal unggulan, seperti Rendang Riry dan Rendang Gadih.
Pemilik Rendang Riry, Haris Budiman, mengungkapkan bahwa program OVOP sukses mengerek kapasitas produksinya hingga menyentuh 200 kilogram per hari dengan serapan 12 tenaga kerja lokal.





