Baca Juga: Wamenkeu Juda Agung: Pemerintah Efisienkan Belanja Negara dan MBG Demi Amankan Fiskal
“Penguatan dolar AS ini terjadi karena faktor demand, biasanya untuk kebutuhan jemaah haji, pembayaran deviden, pembayaran utang,” kata Perry di Gedung DPR RI.
Bank sentral memproyeksikan tekanan terhadap Rupiah akan mereda secara signifikan memasuki paruh kedua tahun ini.
Merujuk pada tren historis beberapa tahun terakhir, performa mata uang Rupiah biasanya mulai bergerak masuk ke zona hijau pada periode Juli hingga September.
“Dari pengalaman, Juli-Agustus-September akan menguat dan kami meyakini akan kembali ke range 16.200–16.800 per dolar AS, sesuai asumsi makro di APBN,” jelas Perry.
Siasat BI Amankan Likuiditas Lewat Pasar Sekunder
Guna mengawal stabilitas nilai tukar tanpa mengorbankan ketersediaan dana di dalam negeri, BI menerapkan strategi moneter yang hati-hati.
Baca Juga: Transparansi Pajak Terbaik Dunia, Kemenkeu Salurkan Rp389 Triliun untuk UMKM
Perry menegaskan bahwa bank sentral memetik pelajaran berharga dari krisis 1997–1998, di mana pengetatan likuiditas yang terlampau ekstrem demi membela kurs justru memicu kelumpuhan sektor perbankan.
“Kami tidak mau itu, makanya beli SBN ke pasar sekunder. Ini sekaligus upaya agar tidak tidak kekeringan likuiditas, dan bagian ini untuk menarik inflow,” tegas Perry.
Melalui kombinasi bantalan ekonomi makro yang tebal serta intervensi taktis BI melalui pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder, pemerintah optimistis arus modal asing (capital inflow) akan segera kembali masuk dan mendongkrak keperkasaan Rupiah dalam waktu dekat. (*)






