Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA), Reni Yanita, mengungkapkan bahwa hingga November 2025, terdapat 123 unit IKM perkakas tangan yang tersebar dari Sumatera hingga Sulawesi.
“Sentra terbanyak berada di Sumatera Utara, antara lain di Kota Pematang Siantar, Deli Serdang, hingga Langkat,” tutur Reni.
Tantangan Bahan Baku dan Teknologi
Meski prospektif, industri ini masih terganjal sejumlah masalah klasik, seperti sulitnya mendapatkan bahan baku baja karbon spesifik serta gempuran produk impor.
Untuk mengatasinya, Ditjen IKMA menjalankan program restrukturisasi mesin dan peralatan serta memfasilitasi kemitraan strategis dengan penyedia teknologi.
Baca Juga: Kemenperin Pacu Digitalisasi IKM demi Bendung Produk Impor dan Kuasai Pasar E-commerce
Salah satu potret keberhasilan transformasi ini ditunjukkan oleh PT Sarana Panen Perkasa (SPP) di Medan. Produsen alat panen seperti egrek dan dodos ini telah mengantongi sertifikasi SNI serta TKDN, bahkan sukses menembus pasar ekspor ke Liberia, Kosta Rika, hingga Kolombia.
Direktur IKM Logam, Mesin, Elektronika, dan Alat Angkut, Dini Hanggandari, menambahkan bahwa kunci keberlanjutan IKM ini terletak pada kepastian bahan baku.
“PT SPP siap meningkatkan kapasitas produksi dengan dukungan pasokan bahan baku berkualitas dari PT Krakatau Steel dan PT Jatim Taman Steel,” pungkas Dini. Sinergi ini diharapkan menjadikan IKM perkakas tangan sebagai mitra strategis bagi BUMN dan industri besar di masa depan. (*)






