Baca Juga: Go Global: Pertamina Drilling Pamerkan Teknologi Pengeboran Ramah Lingkungan di Osaka
Kepala Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Kaplongan, Jumali, mengapresiasi konsep pengajaran praktis di dalam laboratorium portabel tersebut karena langsung mengubah pola pikir generasi muda terhadap sampah.
“Inovasi pelatihan ini berbeda karena peserta langsung praktik di mini lab. Ini membuat Gen Z tidak lagi menganggap remeh sampah sisa makanan,” kata Jumali.
Meskipun bersentuhan dengan rumus kimia, para peserta dari masyarakat lokal tidak dituntut memiliki latar belakang pendidikan eksakta.
QC Inspector Area 1 Pertamina Drilling, Mila Irva Sari, menjamin seluruh proses peracikan cairan SCFe-26 ini aman dan dapat dipelajari dengan mudah.
“Asalkan mau belajar dan mengikuti prosedur, peserta tetap bisa. Apalagi ada monitoring dan evaluasi langsung dari tim HSSEQ,” jelas Mila.
Baca Juga: Jaga Pasokan Migas, 3.000 Kru Rig Pertamina Drilling Tetap Siaga Saat Lebaran
Sektor ketelatenan ini diakui oleh Qodirun, salah satu peserta pelatihan lulusan SMK.
“Seru prakteknya, walau belum terbiasa dengan takaran cairan kimia dalam proses pembuatannya,” ujar Qodirun.
Komitmen Energi Berkelanjutan dan Pemberdayaan Kelompok Lokal
Langkah strategis ini menjadi perwujudan nyata komitmen Pertamina Drilling dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), terutama pada poin pertumbuhan ekonomi, penanganan perubahan iklim, dan menjaga ekosistem daratan.
Manager Communication Relation & CID Pertamina Drilling, Meddenia Ayu Wulandari Yuliastuti, menegaskan pentingnya kolaborasi aktif antara korporasi energi dengan warga sekitar daerah operasi demi terciptanya roda ekonomi sirkular yang inklusif.





