“Peluang pengembangan bioenergi masih sangat besar. Biomassa tidak hanya dapat dimanfaatkan untuk program co-firing PLTU, tetapi juga menjadi bahan baku biohidrogen, biochar, biogas, biomethane, hingga berbagai produk bioenergi bernilai tambah lainnya,” kata Hokkop menjelaskan.
Selain biomassa padat, Indonesia memiliki sekitar 3.000 pabrik kelapa sawit yang menghasilkan limbah palm oil mill effluent (POME). Limbah tersebut berpotensi diolah menjadi biogas maupun biohidrogen sehingga mampu mengubah limbah menjadi sumber energi yang bernilai investasi.
“Potensi ini mampu memperkuat diversifikasi energi sekaligus meningkatkan nilai tambah limbah pertanian dan perkebunan,” ujar Hokkop.
Sejak 2022, PLN EPI membangun rantai pasok biomassa melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah, kelompok tani, koperasi, BUMDes, hingga sektor swasta. Biomassa yang terkumpul diolah di berbagai fasilitas produksi sebelum dimanfaatkan sebagai bahan bakar co-firing PLTU. Perusahaan juga mengembangkan compressed biogas (CBG), biochar, serta proyek waste to energy untuk memperkuat ekosistem bioenergi nasional.
Kolaborasi Jadi Kunci Ekonomi Rendah Karbon Masa Depan
PLN EPI menempatkan hidrogen dan amonia sebagai pilar utama bisnis masa depan. Perusahaan menyiapkan pengembangan teknologi secara bertahap pada periode 2026–2030 melalui studi kelayakan, proyek percontohan, hingga uji coba pemanfaatan hidrogen dan amonia pada pembangkit listrik sebelum memasuki tahap komersialisasi.
Hokkop menegaskan bahwa keberhasilan biohidrogen membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah, penyedia teknologi, lembaga pembiayaan, akademisi, hingga industri pengguna agar tercipta ekosistem energi hijau yang berkelanjutan.




