<strong>URBANCITY.CO.ID</strong> – Di balik lemari pakaian yang kian sesak, industri fesyen menyimpan sisi gelap: gunungan limbah kain yang sulit terurai. Tren fast fashion yang digandrungi generasi muda tak hanya mengubah gaya hidup, tapi juga memperparah krisis lingkungan. Berangkat dari keresahan ini, Mufida Khairul Muna bersama timnya menginisiasi VersaLayer, sebuah label yang memberikan "hidup kedua" bagi potongan denim terabaikan. Digagas sejak Mei 2025, proyek garapan mahasiswi Desain Mode Universitas Sebelas Maret (UNS) ini lahir dari pengamatan mendalam terhadap perilaku konsumsi Gen Z yang cenderung impulsif terhadap tren viral. <strong>Baca Juga: <a href="https://urbancity.co.id/produk-fesyen-indonesia-tembus-pasar-jepang-raup-potensi-transaksi-rp17-miliar/">Produk Fesyen Indonesia Tembus Pasar Jepang, Raup Potensi Transaksi Rp17 Miliar</a></strong> “Untuk di era sekarang itu yang paling bermasalah adalah sampah, sampah dari fast fashion. Apalagi sekarang orang-orang, terutama Gen Z, banyak yang mengikuti tren. Misalnya kalau ada baju viral, langsung ingin beli,” ungkap Mufida. <strong>Estetika dari Sisa Jeans</strong> VersaLayer memilih jalan upcycle dengan fokus pada material denim. Meski dikenal kuat dan tahan lama, denim merupakan salah satu bahan tekstil yang paling sulit diurai secara alami. Tim ini mengumpulkan celana atau jaket jeans yang sudah tak layak pakai dari berbagai mitra untuk dipilah dan diolah kembali. Proses transformasinya tidak sederhana. Dibutuhkan ketelatenan tangan untuk merangkai potongan-potongan denim menjadi busana baru yang bernilai ekonomi tinggi. <strong>Baca Juga: <a href="https://urbancity.co.id/menuju-sedasa-2026-menteri-ekraf-teuku-riefky-dorong-sinergi-industri-fesyen/">Menuju SEDASA 2026, Menteri Ekraf Teuku Riefky Dorong Sinergi Industri Fesyen</a></strong><!--nextpage--> Karena berasal dari limbah yang berbeda-beda, setiap produk yang dihasilkan bersifat unik dan memiliki karakter yang tidak seragam. Ketidaksempurnaan bahan inilah yang justru menjadi identitas sekaligus nilai jual utama VersaLayer. <strong>Dari Inkubator Kampus Menuju Pasar Nasional</strong> Langkah VersaLayer menembus pasar bukan tanpa hambatan. Perjalanan mereka dimulai dari Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW). Konsistensi mereka kemudian diperkuat melalui Program Wirausaha Baru Mahasiswa (WIBAWA) UNS hingga akhirnya merambah platform digital seperti Shopee, TikTok Shop, dan Tokopedia. Eksistensi VersaLayer semakin diakui setelah tampil di Solo Art Market dan terlibat dalam program Campuspreneur yang diinisiasi oleh Kementerian Perdagangan. Lewat ajang ini, VersaLayer tak sekadar berjualan produk, melainkan menjual narasi tentang keberlanjutan lingkungan kepada ekosistem pasar yang lebih luas. <strong>Baca Juga: <a href="https://urbancity.co.id/perangi-fast-fashion-kementerian-ekraf-dan-mahasiswa-gaungkan-fesyen-berkelanjutan/">Perangi Fast Fashion, Kementerian Ekraf dan Mahasiswa Gaungkan Fesyen Berkelanjutan</a></strong> Bagi Mufida, tantangan terberat adalah membangun kesadaran kolektif mengenai dampak lingkungan dari pakaian. Ia percaya bahwa edukasi harus berjalan beriringan dengan inovasi bisnis. “Masih banyak orang yang belum paham tentang dampak lingkungan dari kain yang kita pakai. Harapannya, produk kami bisa lebih dikenal karena tetap memperhatikan dampak lingkungan dan pengelolaan limbahnya,” tambah Mufida. Kehadiran VersaLayer menjadi potret nyata tumbuhnya wirausaha muda yang mulai meninggalkan orientasi sekadar profit.<!--nextpage--> Di tangan mereka, limbah bukan lagi akhir, melainkan awal dari cerita tentang keberlanjutan yang dijahit perlahan dalam setiap karya. (*)