Karena berasal dari limbah yang berbeda-beda, setiap produk yang dihasilkan bersifat unik dan memiliki karakter yang tidak seragam. Ketidaksempurnaan bahan inilah yang justru menjadi identitas sekaligus nilai jual utama VersaLayer.
Dari Inkubator Kampus Menuju Pasar Nasional
Langkah VersaLayer menembus pasar bukan tanpa hambatan. Perjalanan mereka dimulai dari Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW).
Konsistensi mereka kemudian diperkuat melalui Program Wirausaha Baru Mahasiswa (WIBAWA) UNS hingga akhirnya merambah platform digital seperti Shopee, TikTok Shop, dan Tokopedia.
Eksistensi VersaLayer semakin diakui setelah tampil di Solo Art Market dan terlibat dalam program Campuspreneur yang diinisiasi oleh Kementerian Perdagangan.
Lewat ajang ini, VersaLayer tak sekadar berjualan produk, melainkan menjual narasi tentang keberlanjutan lingkungan kepada ekosistem pasar yang lebih luas.
Baca Juga: Perangi Fast Fashion, Kementerian Ekraf dan Mahasiswa Gaungkan Fesyen Berkelanjutan
Bagi Mufida, tantangan terberat adalah membangun kesadaran kolektif mengenai dampak lingkungan dari pakaian. Ia percaya bahwa edukasi harus berjalan beriringan dengan inovasi bisnis.
“Masih banyak orang yang belum paham tentang dampak lingkungan dari kain yang kita pakai. Harapannya, produk kami bisa lebih dikenal karena tetap memperhatikan dampak lingkungan dan pengelolaan limbahnya,” tambah Mufida.
Kehadiran VersaLayer menjadi potret nyata tumbuhnya wirausaha muda yang mulai meninggalkan orientasi sekadar profit.






