URBANCITY.CO.ID – Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) menegaskan komitmennya untuk menggenjot komersialisasi Kekayaan Intelektual atau Intellectual Property (IP) lokal agar mampu bersaing di panggung global.
Kolaborasi lintas subsektor industri kreatif dinilai menjadi kunci utama untuk meningkatkan nilai pasar (market value) produk berbasis seni dan budaya asli Indonesia.
Hal tersebut dipaparkan oleh Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamen Ekraf), Irene Umar, dalam sesi Mastermind Panel bertajuk ‘IP is Indonesia’s Next Oil’ pada ajang Manager Fest 2026 di Garuda Spark Innovation Hub, FX Sudirman, Jakarta, Sabtu (16/5/2026).
Indonesia bukan tidak punya identitas, justru kita memiliki terlalu banyak identitas yang membuat lintas subsektor harus kompak bersatu dan punya market value.
Baca Juga: Kembali ke Akar: Grand Hotel De Djokja Hidupkan Lagi Identitas Heritage di Malioboro
“Tantangannya tentu bagaimana kita mampu memperkenalkan, mengelola, dan mengembangkan IP lokal yang bisa dicintai masyarakat secara nasional, termasuk akselerasi IP lokal menjadi sesuatu yang harus dijaga dan bisa bersaing secara global,” ujar Wamen Ekraf Irene Umar.
Inspirasi Budaya Nusantara dan Penguatan Ekosistem
Irene menguraikan bahwa kekayaan adat dan budaya nusantara harus dipandang sebagai fondasi utama (source code) bagi para kreator domestik, seperti contoh nyata yang telah diterapkan oleh animasi lokal Desa Timun.
Guna merealisasikan potensi tersebut, Kemenekraf berjanji akan memperbanyak ruang pamer (showcase) strategis agar karya anak bangsa tidak terisolasi dari pasar.




