URBANCITY.CO.ID – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melayangkan nada optimistis mengenai masa depan mata uang garuda di pasar spot internasional.
Otoritas fiskal memproyeksikan tekanan berat yang melanda nilai tukar rupiah bakal segera mereda dan berbalik menguat secara bertahap begitu memasuki paruh kedua tahun ini.
Purbaya mengakui bahwa sentimen negatif global dan aksi hindar risiko (risk-off) para investor global sempat memojokkan posisi rupiah pada awal Juni ini.
Defisit pada neraca transaksi berjalan serta transaksi finansial domestik ikut memperkeruh fluktuasi nilai tukar di dalam negeri.
Namun, bendahara negara ini meyakini kombinasi jurus fiskal dan moneter sanggup menjinakkan gejolak tersebut.
Baca juga:Â Demi Pengrajin Tahu dan Ibu Rumah Tangga, Menkeu Purbaya Janji Stabilkan Rupiah
Pemerintah mengandalkan pengetatan tata kelola Devisa Hasil Ekspor (DHE) serta program pendalaman pasar keuangan untuk mempertebal pasokan valuta asing (valas) di dalam negeri.
Pasokan dollar yang melimpah ini otomatis mempermudah tugas Bank Indonesia (BI) dalam mengeksekusi intervensi pasar secara taktis.
“Maka rupiah akan kembali menguat secara bertahap pada semester II tahun 2026,” ujar Purbaya saat memaparkan nota asumsi makro dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI, Jakarta, Selasa, 10 Juni 2026.
Guyuran Rp97 Triliun Modal Asing Jaga Otot SBN
Purbaya menilai kembalinya kepercayaan para pemodal kakap terhadap iklim investasi nasional menjadi motor penggerak utama penguatan rupiah.
Sentimen positif ini sukses memicu banjir arus modal asing masuk (capital inflow) untuk berburu instrumen keuangan portofolio di pasar domestik.




