URBANCITY.CO.ID – Gaya hidup dinamis masyarakat perkotaan kini menuntut generasi muda untuk tidak lagi sekadar menjadi konsumen tren digital, melainkan pencipta peluang ekonomi baru bernilai tambah tinggi.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar, secara tegas memacu talenta muda urban untuk mengambil kendali penuh atas arah masa depan industri kreatif nasional melalui monetisasi ide, pemanfaatan teknologi, dan penguatan portofolio usaha.
Ajakan strategis tersebut mengemuka saat Irene memaparkan visi penguatan ekonomi kreatif dalam forum Youth Economic Summit (YES) 2026 di Gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail, Jakarta, Sabtu (7/11).
Mengusung tema besar Drive the Direction: Mengambil Peran Menentukan Arah Masa Depan, ajang prestisius ini membuka wawasan komprehensif bagi para profesional muda, kreator, dan calon founder dalam membedah lanskap pasar modern serta menangkap potensi bisnis berbasis kekayaan intelektual (IP).
Baca Juga: Investasi IP Komik Lokal: Peluang Cuan Baru Gaya Hidup Urban di WCCE 2026
“Kalau sebelumnya kita selalu mendengarkan let’s listen to the trend, sekarang dengan adanya kata drive, berarti kita, Indonesia, dan generasi muda sudah siap menjadi driver of the future, menentukan apa yang ingin kita lakukan ke depan,” ujar Irene.
Membaca Data dan Integrasi AI Pacu Keunggulan Bisnis
Keberhasilan penetrasi pasar di era modern berakar pada keahlian mengolah basis data pasar menjadi strategi bisnis yang menghasilkan profit terukur.
Irene menegaskan bahwa pelaku usaha muda wajib mengonversi tumpukan data angka mentah menjadi panduan analisis tajam demi membaca tren konsumsi perkotaan, mengantisipasi pergeseran selera audiens, serta mengeksekusi strategi ekspansi pasar secara presisi.
Baca Juga: Kemenekraf Gandeng Jepang Buka Peluang Investasi IP dan Pasar Global
Akselerasi teknologi mutakhir dan kecerdasan buatan (AI) kini menyediakan instrumen komputasi canggih bagi kreator urban untuk melakukan simulasi proyeksi bisnis secara efisien.
Pemanfaatan algoritma data yang akurat memungkinkan para perintis bisnis memitigasi risiko modal sejak dini sekaligus merumuskan keputusan investasi yang solid sebelum meluncurkan produk komersial ke pasar terbuka.
Monetisasi Industri Gim dan Potensi Pasar Global
Sektor gim digital menawarkan aset investasi bernilai tinggi seiring dengan masifnya basis konsumen perkotaan yang gemar berinteraksi di ruang virtual.
Baca Juga: Potensi Bisnis Industri Gim Indonesia: Peluang Investasi Kreatif dari Kerja Sama Ekraf & Coda
Laporan “Peta Ekosistem Industri Gim Indonesia 2024” rilisan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mencatat lebih dari 150 juta pemain gim aktif di tanah air, menyuguhkan pasar domestik yang sangat likuid untuk kolaborasi lifestyle branding dan ekspansi produk lintas batas.
Irene mencontohkan keberhasilan kolaborasi komersial industri gim raksasa Mobile Legends bersama jenama fesyen lokal Shiroshima yang menyulap motif batik menjadi merchandise bergengsi dunia.
Sinergi ini membuktikan bahwa elemen budaya lokal mampu bertransformasi menjadi aset komersial yang menguntungkan ketika berpadu dengan ekosistem hiburan interaktif modern yang disukai komunitas global.
Komersialisasi Karya Riset Kampus Menjadi Aset Nyata
Baca Juga: Wamen Ekraf Irene Umar Dukung Inovasi Serat Rami Aruna Creative untuk Fesyen Berkelanjutan
Ekosistem pendidikan tinggi memegang peranan krusial sebagai inkubator lahirnya beragam kekayaan intelektual berdaya saing komersial.
Para mahasiswa dan peneliti muda perkotaan perlu mengonversi hasil riset, skripsi, maupun prototipe kompetisi akademik menjadi unit bisnis mandiri yang memiliki nilai valuasi tinggi serta proteksi hak cipta berjangka panjang.
“Siapa pun yang menang dalam kompetisi ini, seluruh peserta yang hadir ataupun yang mengikuti komunitas dan berani mengatakan ingin melakukan sesuatu, sudah menjadi pemenang. Karena keberanian untuk melangkah dan memulai merupakan langkah pertama yang sangat penting,” tegas Irene.
Melalui rangkaian sesi Youth Economic Outlook (YEO), Youth Economic Creation (YEC), dan Youth Economic Talk (YET), Kementerian Ekraf terus memperkuat jejaring wirausaha muda agar mampu mengubah ide kreatif menjadi portofolio investasi nyata yang menopang pertumbuhan ekonomi nasional.




