Tim ahli pilar tersebut mengawal langsung penyusunan strategi digitalisasi bagi perusahaan-perusahaan manufaktur terpilih.
Baca juga: Sokong Manufaktur, Lebih dari 2 Juta IKM Pangan Jadi Motor Utama Ekonomi
Proses pendampingan menyasar berbagai tahapan krusial, mulai dari penilaian indeks kesiapan melalui Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0).
Petugas juga mengidentifikasi area prioritas perbaikan operasional di dalam pabrik.
Langkah akhir dari pendampingan ini berupa penyusunan roadmap digital yang adaptif sesuai dengan karakter operasional masing-masing korporasi.
Kepala BPSDMI Doddy Rahadi meyakini penerapan lima pilar INDI 4.0 secara konsisten akan memangkas biaya operasional perusahaan.
Ia menjelaskan, pendampingan penyusunan roadmap transformasi digital yang dilakukan melalui PIDI 4.0 diarahkan untuk memperkuat aspek manajemen.
Kemudian organisasi, teknologi, hingga operasional perusahaan.
“Dengan demikian, industri dapat meningkatkan produktivitas, efisiensi, serta daya saing secara berkelanjutan,” ujar Doddy.
Baca juga: Kemenperin Tepis Isu Deindustrialisasi, Sebut Manufaktur RI Masih Bertaji
Tim seleksi Kemenperin menetapkan dua korporasi nasional sebagai penerima fasilitasi program pendampingan intensif pada tahun 2026.
Sektor Kimia Hulu mendelegasikan PT DIC Astra Chemical, sedangkan sektor komponen otomotif mengirimkan PT Garuda Metal Utama setelah lolos kurasi ketat.
Kolaborasi Lintas Sektoral
Kerja sama ini melibatkan lintas direktorat, termasuk pihak Pusat Optimalisasi Pemanfaatan Teknologi Industri dan Kebijakan Jasa Industri (OPTIKJI).




