Agus juga menekankan pentingnya prinsip no one left behind dalam proses transformasi digital dan pembangunan kota. Ia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi harus mampu memperluas kesempatan bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk pelaku usaha kecil, pedagang kaki lima, hingga keluarga muda yang sedang berjuang memiliki rumah pertama.
“Teknologi tanpa inklusi hanya akan menciptakan kesenjangan yang semakin lebar. Karena itu, transformasi digital harus memberi manfaat bagi mereka yang selama ini tertinggal,” katanya.
Ia menambahkan, peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) saat ini tidak lagi hanya berorientasi pada bisnis semata, tetapi juga menjadi motor penggerak pembangunan yang mampu menciptakan kesempatan ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
“Ukuran keberhasilan Jakarta bukan seberapa tinggi gedung yang berdiri, tetapi seberapa banyak mimpi yang dapat diwujudkan oleh warganya. Jika MRT menghubungkan titik-titik kota, maka Bank Jakarta akan menghubungkan peluang-peluang kehidupan,” tutup Agus.




