Menurut Agus, masih banyak masyarakat yang belum terintegrasi ke dalam sistem keuangan formal sehingga perlu menjadi perhatian bersama.
“Faktanya masih banyak warga Jakarta yang belum masuk ke dalam sistem keuangan formal. Ini menjadi pekerjaan besar yang harus kami selesaikan,” katanya.
Strategi kedua adalah memperkuat sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Bank Jakarta menilai dukungan kepada pelaku usaha tidak cukup hanya melalui pembiayaan, tetapi juga harus mencakup akses ke ekosistem digital, perluasan pasar, serta penguatan rantai pasok usaha.
“UMKM tidak hanya membutuhkan pinjaman, tetapi juga membutuhkan kesempatan,” ujarnya.
Selanjutnya, Bank Jakarta akan mendorong housing inclusion atau perluasan akses pembiayaan perumahan. Agus menilai kepemilikan rumah menjadi salah satu tantangan terbesar bagi generasi muda di Jakarta yang menghadapi tingginya harga properti.
Baca juga: Belum Beroperasi, Data Center Telkom di Batam Sudah Ludes Dipesan Raksasa AI
“Akses pembiayaan rumah harus menjadi bagian dari strategi kota karena banyak anak muda yang kesulitan menjangkau harga rumah di Jakarta,” katanya.
Strategi keempat adalah investment enablement atau penguatan iklim investasi. Menurut Agus, pembangunan Jakarta sebagai kota global membutuhkan dukungan investasi yang kuat dan berkelanjutan, tidak hanya mengandalkan anggaran pemerintah daerah.
“Peran Bank Jakarta bukan sekadar menghimpun dana dan menyalurkan kredit, tetapi menjadi penghubung antara warga, UMKM, pemerintah, dan investor dalam satu ekosistem kota,” ujarnya.




