URBANCITY.CO.ID – Ramuan herbal tradisional alias jamu kini tidak boleh lagi diidentikkan dengan kesan kuno, pahit, dan tertinggal zaman.
Di tangan para pelaku industri kreatif, air perasan rempah Nusantara ini mulai bersolek dan beradaptasi agar bisa masuk ke dalam gaya hidup masyarakat urban modern. Langkah penyegaran ini dinilai krusial agar warisan leluhur tersebut tidak punah tergilas zaman.
Sinyal penyelamatan budaya melalui jalur komersial ini ditekankan oleh Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar.
Saat menghadiri Festival Jamu Nusantara di kawasan Hutan Kota Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, ia menegaskan bahwa jamu merupakan bagian dari identitas Indonesia yang wajib diwariskan kepada generasi mendatang melalui pendekatan modern.
Baca juga:Â Sasar Pasar Global, Menteri Ekraf Teuku Riefky Pacu Digitalisasi Industri Jamu
“Jamu bukan hanya produk. Jamu adalah identitas Indonesia. Dari budaya dan identitas itulah kreativitas lahir sehingga menghasilkan berbagai inovasi yang membuat budaya kita tetap lestari sekaligus relevan,” ujar Wamen Ekraf Irene Umar, dikutip Senin, 8 Juni 2026.
Menurut Irene, cara-cara konvensional dalam menjaga tradisi sudah tidak lagi mempan untuk menarik minat anak muda. Kreativitas wajib disuntikkan ke dalam ekosistem hilir agar racikan herbal lokal ini dekat dengan keseharian generasi baru, sehingga mereka bisa mengenal dan mencintainya secara sukarela.
Membawa Ramuan Lokal ke Panggung Dunia
Potensi ekonomi dari segmen ini terbilang sangat menggiurkan. Jamu tidak hanya memiliki nilai sejarah yang magis, tetapi juga menyimpan kapasitas besar untuk dikembangkan sebagai produk ekonomi kreatif yang mampu bersaing di tingkat global.




