Penurunan ini dipicu oleh dinamika global dan siklus pasar. Namun, Indonesia tetap kokoh di peringkat ke-7 dunia dalam Global Crypto Adoption Index 2025.
Baca Juga: OJK dan Bappebti Akhiri Masa Transisi Pengaturan Aset Keuangan Digital dan Kripto
Tiga Pilar Ekosistem Kripto Indonesia
Ketua Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI), Robby, menyatakan bahwa industri aset digital nasional telah memiliki fondasi yang solid.
Saat ini, ekosistem kripto Indonesia berdiri di atas tiga pilar utama: bursa sebagai infrastruktur pencatatan real-time, pedagang sebagai akses investor ritel, serta kliring dan kustodi sebagai penjamin keamanan aset.
“Keberhasilan industri aset keuangan digital hingga titik ini adalah bukti kuatnya ekosistem yang telah dibangun secara kolektif oleh para penyelenggara seluruh ekosistem,” ujar Robby.
Program Literasi Lintas Sektor
BLK 2026 akan diselenggarakan di berbagai kota, mulai dari Jakarta, Solo, Yogyakarta, hingga Manado. Program ini dibagi menjadi tiga sasaran utama:
Baca Juga: Remaja Perlu Belajar Investasi Kripto Meski Berisiko Tinggi untuk Kembangkan Keterampilan Finansial
- Masyarakat Umum: Edukasi dasar investasi.
- Mahasiswa dan Akademisi: Fokus pada pengembangan teknologi blockchain.
- Aparat Penegak Hukum: Penguatan pengawasan dan penanganan kasus hukum terkait aset digital.
Hingga Februari 2026, jumlah akun konsumen kripto di Indonesia telah mencapai 21,07 juta.
Dengan partisipasi yang terus membengkak, OJK berkomitmen untuk terus meningkatkan tata kelola dan perlindungan konsumen guna menjaga integritas pasar keuangan digital nasional. (*)






