“Kami mengapresiasi para pihak yang telah bersama-sama bersinergi untuk memperluas akses pasar yang berkelanjutan bagi IKM pakaian dan sepatu olahraga serta industri alat olahraga sehingga semakin terhubung dengan rantai pasok industri dan ritel nasional,” ujarnya.
Baca juga: Harga Emas Melonjak, Kemenperin Optimistis Industri Perhiasan Tetap Berkilau
Bukan Sekadar Jual Beli Sesaat
Direktur Jenderal IKMA Kemenperin, Reni Yanita, menekankan bahwa pertemuan ini dirancang untuk dampak jangka panjang. Targetnya jelas: memperkuat penggunaan produk dalam negeri dan mengunci posisi IKM dalam rantai pasok ritel modern.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan kapasitas dan daya saing industri pendukung ekosistem olahraga agar mampu berkembang, memperluas pasar, serta berkontribusi terhadap pertumbuhan industri nasional,” ungkap Reni.
Potensi sektor ini memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Berdasarkan data BPS tahun 2024, ekosistem konveksi pakaian jadi skala kecil dan menengah menyerap lebih dari 1,2 juta tenaga kerja. Sementara di sektor alas kaki dan kulit, ada puluhan ribu usaha yang menghidupi sekitar 139 ribu pekerja.
Pada Triwulan I Tahun 2026, industri pakaian jadi menyumbang 0,99 persen terhadap PDB nasional, disusul industri kulit dan alas kaki sebesar 1,30 persen.
Baca juga: Harga Emas Melonjak, Kemenperin Optimistis Industri Perhiasan Tetap Berkilau
Taji produk lokal di pasar dunia pun mulai terlihat. Catatan Kemenperin per Februari 2026 menempatkan ekspor pakaian jadi tekstil (USD626,32 juta) dan sepatu olahraga (USD340,81 juta) ke dalam daftar 20 komoditas manufaktur ekspor terbesar.




