Strategi Pertamina Menghadapi Era ‘The End of Easy Energy’
Senada dengan Menteri ESDM, Pertamina mengakui industri hulu migas dunia tengah memasuki fase krusial seiring berakhirnya era easy energy (eksplorasi sumber energi yang mudah dijangkau).
Baca Juga: Prabowo Panggil Bahlil ke Istana: Pastikan Stok BBM Aman dan LPG Dialihkan ke CNG
Penemuan cadangan baru kini mayoritas berada di lokasi yang membutuhkan teknologi tinggi dan biaya investasi jumbo.
Dalam sesi Global Executive Talk, Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, menyatakan bahwa volatilitas harga akibat konflik Selat Hormuz harus diredam dengan menggenjot kapasitas lapangan migas domestik melalui teknologi mutakhir, seperti penggunaan superkomputer dan kecerdasan buatan (artificial intelligence).
“Pada dasarnya, memang era easy energy sudah berlalu. Namun jika kita melihat lebih jauh, khususnya di Indonesia, kita masih memiliki peluang yang sangat besar. Jadi, bagi para investor, praktisi industri energi, maupun regulator, Indonesia menawarkan begitu banyak peluang yang dapat dikembangkan,” papar Oki Muraza.
Obral Insentif dan Teknologi EOR untuk Pikat Investor
Untuk meminimalkan risiko operasional yang tinggi, Pertamina membuka pintu kemitraan strategis seluas-luasnya dengan perusahaan energi global.
Baca Juga: Kurangi Impor 7 Juta Ton LPG, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Siapkan Substitusi DME dan CNG
Di sisi lain, koordinasi erat dengan kementerian teknis terus diperkuat guna menata ulang iklim investasi gas dan minyak di tanah air agar tetap atraktif.




