URBANCITY.CO.ID – Prospek suku bunga Indonesia kembali menjadi perhatian pelaku pasar. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, proyeksi kenaikan BI-Rate hingga 6,25 persen pada akhir 2026 menjadi sinyal penting bagi investor, pelaku bisnis, hingga masyarakat urban yang berencana membeli rumah atau mengembangkan portofolio investasi.
Tim ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk menilai Bank Indonesia masih memiliki ruang untuk memperketat kebijakan moneter apabila tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan inflasi impor meningkat. Kondisi tersebut membuat strategi investasi berbasis aset produktif dan pengelolaan utang menjadi semakin relevan pada tahun depan.
“Kami mempertahankan proyeksi BI-Rate pada akhir 2026 sebesar 6,25 persen,” kata Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz dalam kajian Indonesia Macro Glint yang diterima di Jakarta, Rabu.
Irman mengatakan kenaikan suku bunga lanjutan masih berpeluang dilakukan apabila tekanan terhadap rupiah kembali meningkat, inflasi impor menjadi lebih persisten, atau kondisi keuangan global semakin mengetat.
Meski demikian, keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen pada Juli 2026 menunjukkan bank sentral masih memilih menunggu perkembangan data ekonomi sebelum mengambil langkah berikutnya.
Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur 21–22 Juli 2026 mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75 persen, dan Lending Facility sebesar 6,50 persen.
Strategi BI Menjaga Rupiah Tanpa Membebani Pertumbuhan Ekonomi




