Siasat Bersaing di Pasar Global dari Sektor Hulu
Penguatan sistem pembenihan nasional merupakan harga mati yang dipasang oleh Direktorat Jenderal Perkebunan.
Baca juga: Kejar Swasembada Pangan, Kementan Kerahkan BRMP Kawal Bantuan di 38 Provinsi
Transformasi sektor perkebunan ke depan wajib bergeser dari pola tradisional yang tidak efisien menuju pengelolaan yang produktif dan berdaya saing global.
Kehadiran varietas anyar yang adaptif terhadap perubahan iklim dan tahan serangan hama menjadi modal utama penentu keberhasilan budidaya.
Plt. Direktur Jenderal Perkebunan, Ali Jamil, memaparkan bahwa langkah ini akan menjadi pemantik bagi program diversifikasi produk turunan bernilai ekonomi tinggi.
Komoditas seperti tebu, cengkeh, dan aren tidak boleh lagi sekadar dijual dalam bentuk mentah tanpa sentuhan nilai tambah.
“Perkebunan yang maju harus ditopang oleh benih unggul yang berkualitas. Karena itu, kami terus mendorong lahirnya varietas-varietas baru yang adaptif, produktif, dan sesuai dengan kebutuhan pasar. Inilah salah satu langkah nyata untuk memperkuat daya saing perkebunan Indonesia dari hulu hingga hilir,” jelas Ali Jamil.
Baca juga: Viral Bantuan Beras Sumatra: Kementan Minta Maaf, Sudah 1.200 Ton Disalurkan
Inovasi Benih Jadi Kunci Sejahtera
Secara terpisah, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menggarisbawahi bahwa target swasembada pangan dan penguatan ekspor komoditas perkebunan mustahil dicapai tanpa sokongan riset ilmiah yang kuat.
Pemanfaatan teknologi pembenihan mutakhir harus berjalan beriringan dengan skema pendampingan penyuluh pertanian di lapangan agar adopsi varietas baru ini bisa berlangsung cepat.


