URBANCITY.CO.ID – Pertumbuhan kredit menjadi salah satu indikator penting yang menentukan laju investasi dan keberlanjutan usaha di kawasan urban. Ketika kredit mengalir deras ke sektor korporasi, tetapi melambat di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), kondisi tersebut mencerminkan tantangan yang dapat memengaruhi penciptaan lapangan kerja, daya beli masyarakat, hingga pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai kesenjangan pertumbuhan kredit UMKM dan kredit nasional menunjukkan adanya persoalan struktural yang perlu segera dibenahi.
“Kesenjangan antara pertumbuhan kredit UMKM yang hanya sekitar 1 persen hingga Juni 2026 dan pertumbuhan kredit nasional sebesar 12,6 persen menunjukkan persoalan yang bersifat struktural. Padahal, UMKM menyumbang sekitar 60 persen PDB (Produk Domestik Bruto) dan menjadi penyerap tenaga kerja terbesar,” katanya kepada ANTARA di Jakarta, Sabtu.
Ia menjelaskan, lemahnya permintaan masyarakat, khususnya kelompok menengah ke bawah, menjadi faktor utama yang menekan omzet dan arus kas pelaku UMKM. Kondisi tersebut membuat kebutuhan pembiayaan produktif belum mampu tumbuh secara optimal meskipun likuiditas perbankan masih memadai.
Ekosistem Pembiayaan Jadi Kunci Meningkatkan Investasi UMKM
Di sisi lain, perbankan masih menilai UMKM sebagai segmen yang memiliki risiko lebih tinggi. Banyak pelaku usaha belum memiliki pembukuan yang rapi, legalitas usaha yang lengkap, maupun rekam jejak keuangan yang memadai sehingga proses penilaian kredit menjadi lebih sulit.



