Riefky blak-blakan menyebut subsektor kuliner sebagai “raja” di dalam ekosistem ekonomi kreatif Indonesia.
Baca juga: Orbitkan Musisi Malut, Kementerian Ekraf Fasilitasi Video Musik Ternate-Tidore
Kontribusinya mencatatkan rekor tertinggi dibanding sektor kreatif lainnya, yakni menyumbang 40,27 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, atau setara dengan duit hampir Rp648 triliun.
Tak hanya urusan duit, sektor ini juga menjadi penyerap keringat tenaga kerja paling masif dengan total 15,58 juta pekerja.
Menariknya, struktur pekerja di industri ini mencerminkan bonus demografi: lebih dari 57 persen posisinya didominasi oleh anak-anak muda berusia di bawah 42 tahun.
Kontribusi jumbo serta dominasi anak muda inilah yang membuat Riefky yakin bahwa masa depan ekonomi kreatif ada di tangan kolaborasi komunitas.
“Kekuatan ekonomi kreatif saat ini lahir dari komunitas dan anak muda yang berkolaborasi dalam suasana cair untuk menciptakan ide-ide segar. Hari ini kuliner bukan lagi sekadar soal memasak, melainkan industri kreatif besar yang melibatkan branding, konten digital, dan koneksi dengan audiens; jadi jangan takut memulai, kuncinya adalah kreatif, konsisten, dan terus membangun ekosistem bersama,” tutur Riefky.
Baca juga: Buka Pelatihan Unreal Engine, Kementerian Ekraf Pacu Animator Lokal Tembus Pasar Global
Menjual Sensasi Lokal di Lapak Digital
Di atas lapangan, festival tanpa tiket masuk ini menjadi etalase bagi kreativitas 18 jenama kuliner terkemuka, yang terdiri atas 17 pelaku UMKM lokal dan satu jenama waralaba.




